Referensi Cerita : I Am. A Bipolar
I Am. A Bipolar. Degan cerita yang bergitu singkat hanya
beberapa chapter, di tambah riset dan penulisan yang bagus, cukup menarik buat
di baca kala gabut (liburan-red). Jarang gue nemu cerita berbau psikologi ini,
tentu saja gue tertarik lah .....menurut lu ngapain coba gue milih jurusan BK
kalau kagak tertarik psikologi. Kalau kagak tertarik psikologi, udah dari dulu
adek milih sastra indonesia kali.
Ceritanya cukup simple sebenarnya. Seorang bipolar yang
mengasingkan diri dirumahnya, karena di buang keluarganya dan akhirnya jatuh
cinta dengan tetangga yang merupakan calon dokter. Gue suka detail-detial apa
yang di rasakan si tokoh sebagai penderita bipolar dengan kefrustasiannya
menjalani hidup yang melelahkan dari episode Maniac ke Depresi. Begitu terus,
dengan mood yang berubah-ubah tentu sulit berosialisasi dengan orang lain, di
tambah ketergantuangan obat penenang, jam tidurnya di renggut penyakit
bipolarnya sampai di suatu chapter diceritakan si tokoh pingsan dan ketika di
tanya ia malah merasa senang, dengan dirinya pingsan setidaknya ia bisa tidur
dengan nyenyak karena selama berhari-hari ia tidak tidur.
Beberapa kutipan yang bener-bener menggugah hati gue
sampai nangis malem-malem kek kesurupan. Siapa suruh baca malem-malem?
“Aku ingin mati. Aku minum banyak pil itu tapi kenyataannya aku takut. Dan di saat itu aku mulai berharap ada yang melarikan aku ke rumah sakit
Aku menyiram beberapa botol penuh bensin di tubuhku. Tapi aku takut ketika aku mulai menyalakan api itu dan aku berharap ada yang mematikan apikecil di korek api itu.
Aku berjalan tanpa arah hingga diriku terdiam ditengah jalanan yang tengah ramai. Aku taku dan memejamkan erat mataku. Takut bila bus itu menabrakku dengan tubuhku yang nanti tidak utuh.
Aku menggoreskan pisau dinadiku. Namun seberapa kuat aku menggoreskannya aku tetap takut. Aku bila pisau itu benar-benar memutus urat nadi di tanganku.
Dan yang paling aku takutkan ketika aku berdiri sendiri dengan pikiran kosong disini. Berdiri di tepi tebing. Dengan sekuat apapn aku mencoba untuk meloncat ke bawah namun aku kembali takut.
Ketika melihat sosok gadis kecil yang tak jauh dibelakangku terjatuh dari atas batu itu ke tanah yang jaraknya hanya seberapa. Dan lagi. aku mengurungkan niatku untuk meloncatkan diriku. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya tubuhku nanti saat aku jatuh di antara batu karang di bawah. Mungkin luka goresnya lebih parah. Jauh dair gadis kecil itu alami”
Ada juga kutipan percakapan yang bikin gue bener-bener
ngrasa kasian banget ama hidupnya si tokoh.
“Hey, apa kau tidak mengantuk? Ini sudah sangat larut. Sebaiknya kau membersihkan kameramu besok saja”
Ia hanya tersenyum. “Aku membersihkannya selagi aku bisa. mungki tidak akan sebaik ini besok. Dan mungkin aku malah melemparkan kameraku karena mengerang frustasi tidak mampu mmebersihkannya dengan baik” ucapnya.
Gue akuin ini cerita keren. Tapi sayangnya gendre-nya
Yaoi dan berate –M, terlebih lagi berakhir sad ending. Mungkin yang belum
terbiasa dengan cerita begini bakal ngrasa ‘aneh’ dan enggak puas ama
endingnya. Bagaimana pun dengan sad endingnya malah bikin cerita ini malah
realistis. Kagak mesti suatu cerita harus happy ending kan? Yang penting isinya
kan?
Yang mau baca silahkan klik disini
Tapi gue saranin siapin tisu, ember (siapa tau situ mau
muntah, karena adegan meture), kalau enggak kuat silahkan di tutup aja. ....Jangan
di paksain. Setelah itu sholat, ngaji, puasa....mohon ampun karena baca beginian.
Niatnya mau beli novel Fifty Shades Of Grey Trilogy tapi
mahal banget, sob. Novel terjemahan mah gitu...Huweeeee!!! EOMMAAA!!!
dan yang pasti kakak gue bakal getok kepala adek, you know what i mean kan?
Pesen gue, jika salah satu teman terdekat kalian terkena Bipolar, dukung mereka.....selalu ada buat mereka, mereka butuh dukungan bukan rasa kasian. Mungkin mereka bakal acuh dengan sekitarnya, karena mereka merasa "Orang kagak ada yang ngertian gue, kenapa gue kudu ngertian mereka". Mereka juga mau hidup normal, namun sayang mereka kagak bisa. Dan itu bukan salah mereka, bukan?

Komentar
Posting Komentar