Radio Part II



   “Malam itu aku berdiri di altar bersama beberapa kerabat yang ku kenal. Suasana begitu hangat, semua orang tertawa bahagia malam itu, makanan enak tersaji dimana sejauh mata memandang, tak lupa dentingan gelas-gelas berwarna gelap pekat. Kedua mempelai saling bertukar senyuman, sebuket bunga berada di genggamannya, musik mulai mengalun indah, kakinya menari kesana kemari....”

Take you to every party
Couse all you wanted to do was dance
Now  my baby is dancing

“Malam yang indah. Setiap wanita akan menginginkan malam yang seperti itu” komentarku sambil membayakanku diriku sendiri berada di tengah pesta tersebut.
“Sayanganya tidak semua pria menginginkan malam seperti itu”
“Bukankah itu malam pernikahan? Itu malam yang sakral, Ron! semua orang menginginkannya, kecuali bagian biayannya yang membuat dompetmu sesak dengan tagihan”
“Aku tak perlu takut dengan biayanya, karena itu bukan pernikahanku. Itu pernikahan sahabat karibku, kedua mempelainya.”
“Sudah kuduga ini akan menjadi cerita sedih” dengusku sedikit kesal. Di sebrang ia terkekek pelan. “Jadi, apa ini cinta segi tiga? Apa aku harus menghafalkan rumus phytagoras dulu sebelum mendengar ceritamu?” tanyaku setengah bercanda.
“Kurasa tidak perlu. Kau hanya perlu duduk manis dan mendengarkan, mungkin sekotak tisu akan membantumu nanti” usulnya.
“Ya Tuhan ternyata ini benar-benar cerita sedih. Baiklah, siapa pun yang mendengarkan siaran ini silahkan pergi ke toko terdekat beli selusin tisu dan kaca mata hitam. Siapa tahu besok mata kalian berubah sebesar biji kenari. Ron, kau bertanggung jawab atas tangisan gadis-gadis malam ini” ucapku mengingatkan.
“Baiklah.”

But she’s dancing with another man

“Mereka berdansa bergitu mesra, saling mengucap kata cinta, dan di akhiri dengan....Ahhh aku tidak suka bagian ini” keluhnya terdengar kesal menceritakan bagian ini. “Kalian pasti tau apa yang terjadi selanjutnya..... aku berdiri di ujung ruangan sambil memandang keluar jendela kaca, kurasa city light lebih baik daripada pernikahan konyol ini. Aku menjadi satu-satunya orang yang menyedihkan di pesta tersebut.”
“Kau mencintai si gadis, tapi di memilih sahabatmu? Bukankah begitu?”
“Ya, kurang lebih begitu. Kami bertiga sudah bersahabat sejak bangku kanak-kanak, sampai di bangku sekolah menengah atas mereka menjadi lebih dekat. Sedangkan aku lebih memilih mundur, aku merelakannya, toh dia bersama sahabatku sendiri. Sesekali mereka cekcok, si gadis akan mencariku menangis meraung seperti singa melahirkan di pelukanku sampai pagi dan hal itu terulang terus sampai malam itu. Ia tak mungkin menemuiku lagi, mereka sudah menikah bukan? Aku juga tak mau di tuduh berselingkuh lalu di giring ke kantor polisi” candanya di akhir cerita namun suaranya mulai terdengar pilu, aku tak yakin ia masih baik-baik saja di sebrang sana.
“Ia mengambil gadis yang paling berharga di antara kami berdua. Aku merindukannya......gadis kecil yang kuat. Gadis kecil yang mau membagi permen lolipopnya. Gadis yang tak menangis ketika ia terjatuh karena mengejar sepatunya yang kami berdua bawa lari, aku sangat jahil kala itu. Karena gadis kami terjatuh, kami berlari ke arahnya dengan wajah khawatir, lalu aku mulai bertanya ‘apa kau baik-bak saja? mana yang sakit? Biar aku sembuhkan lukamu’ dan kau tau apa jawabanya?”
Aku menggeleng. Sadar gelenganku tak dapat ia lihat aku menjawabnya dengan kembali bertanya. “Apa yang ia katakan?”
’Aku tidak terluka, itu hanya saos sambal’ ucapnya menunjuk goresan darah di lututnya sambil menggigit bibirnya menahan perih. Kami berdua tertawa geli melihat tingkah lucu gadis kami, lalu aku menggendongnya pulang, sepanjang jalan ia terus menyakinkan kami bahwa itu hanya saos, kami hanya mengiyakan ucapannya dan kembali tertawa”
“Gadis yang manis dan beruntung di kelilingi pria yang baik.” Ucapku sedikit iri dengan gadis itu. “Mungkin jika dulu aku bersikap manis akan banyak pria sebaik kalian di sekelilingku, sayangnya aku lebih memilih memanjat pohon dan mengejar layangan di tanah lapang. Kulitku menjadi bewarna tan khas terbakar matahari....hahahaha. Aahhh... aku menyesal sekarang” lanjutku.
Aku mendengarnya tertawa lagi. “Mungkin setelah ini kita bisa bertemu, siapa tau aku bisa membantumu” tawarnya.
“Menjadi gadis manis?” tak ku pungkiri mataku berbinar-binar mendengar tawarannya.
“Tidak”
“Lalu?”
“Membantumu mengejar layangan. Aku perlari yang handal asal kau tau”
“Itu tidak membantu, Ron. Kau mau melanjutkan ceritamu atau ku tutup telponmu?” ancamku.
“Baik..baik...sebelum aku pergi dari pesta, aku ingin mengucapkan selamat untuk kedua sahabatku namun sayangnya ponselku lebih dahulu berdering. Saat itu aku menjadi orang yang paling sial hari itu, kedua orang tuaku mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Aku sudah tak ingat lagi dengan ucapan selamat, yang ada di pikiranku hanya kedua orang tuaku, aku harus melihatnya untuk terakhir kali”
“Malam semakin larut, hatiku yang diselimuti awan hitam tebal, tak satu pun pelayat yang menepuk pundakku atau sekedar memberikan tisu tanda simpati. Sampai pagi aku masih bersimpuh di depan foto berhias bunga, tertunduk, tak bergerak, hanya mulutku yang tak mau diam...ia terus bergetar mengimbangi isak tangisku. Aku tersadar aku tak punya siapa-siapa lagi. Hari yang sial bukan?”
Aku tak menjawabnya, jawabanku tak mengubah kejadian itu. Jadi ku putuskan untuk diam, mengambil jeda beberapa saat. Dia sangat terpukul, pasti.
Ia kembali bersuara. “Esoknya tiket kereta sudah ada dalam tanganku. Ini keputusan yang tepat, mengubur cerita ini berharap aku tak mengingatknya lagi ketika kubuka mata esoknya. Sungguh kala itu aku sangat membenci mereka”
“Dan sesuatu terjadi, hingga akhirnya cerita ini harus di ungkap” itu bukan suara Ron, itu suaraku..lebih tepatnya tebakanku.
“Mmm...apa kau cenayang?” tanyanya heran.
Aku menggeleng.“Bukan. Ku pikir aku memang berbakat jadi cenayang mungkin..”. “...Mungkin” ulangku sedikit penekanan.
“Aku berharap kau benar-benar cenayang” ucapnya misterius. “Aku pindah ke kota ini. Rupanya 2 tahun bukan waktu yang singkat, aku sudah melenyapkannya dari pikiranku namun rupanya aku berakhir di balkon apartemenku sibuk menahan derita kerinduan tanpa obat setiap malam. Lucu memang, tidak boleh mencintai orang yang kita cintai.”
“Dan seperti yang kau bilang, sesuatu terjadi. Tuhan sepertinya sudah bosan mendengarkan rengekanku, gadis itu datang tepat di depan pintu apartemenku.”
“Ia kembali......” ujarnya pelan.
.
.
.
Tut..tut...tut..

“Ron?” panggilku. Oh sial, Kenapa teleponnya mati? Apa Ron sudah memutus sambungannya? Ku putuskan memutar lagu untuk siaranku.
Doorrrrrr!!!!!!
Suara tembakan dari lantai atas.
Ya Tuhan, Apalagi ini??! Hampir saja aku meloncat dari tempat duduku. Jantungku berdetak sangat cepat, aku takut jantungku meledak karena terlalu keras berdetak. Oke ini berlebihan.
Semua temanku buru-buru menengok ke jendela.
 “Jadi ada yang bisa menjelaskannku apa yang tertembak?”
“Bukan apa, tapi siapa” koreksi Nina kesal. Sedangkan yang lain masih memandang ke luar jendela mengabaikanku.
“Jadi siapa?” tanyaku lagi.
“Entahlah. Sepertinya seseorang tertembak dan tubuhnya jatuh dari atap gedung ini” jelas Nina.
Ku tengok. Di bawah orang-orang sudah berkerubung. Ambulan dan polisi juga meramaikan peristiwa ini. Siapa yang membunuhnya? Kenapa di gedung ini? Apa dia rekan kerjaku? Kurasa pertanyaanku harus ku tahan sampai esok, setidaknya aku yakin besok peristiwa ini sudah menjadi cover depan koran”
“Jadi bagaimana dengan Ron?” tanya Nina menyadarkan lamunanku.
“Great, dia memutuskan sambungannya”
“Perasaanku jadi tidak enak” keluh salah satu rekanku sambil mengelus tengkuknya. Sial, aku jadi merinding.

Bersambung......









Hahaha...absurd banget ya ceritanya. Tebak siapa yang tertembak? Kenapa nih cerita jadi horror gini? *tiba-tiba merinding*.
Ternyata bikin cerita susah ya. Mungkin gaya penulisannya lebih ke novel-novel barat, jadi agak sedikit kaku (kebanyakan baca remake novel tejemahan nih). Bukannya enggak cinta produk dalam negeri..ada kog gaya kepenulisan cerita yang bagus kaya Esti Kinasih yang bikin ngubek-ngubek perasaan si pembaca, Mia Arsjad yang santai, Raditya Dika yang absurd, Dwitasari yang quote-nya apik-apik, selebihnya ya dalam batas ‘bagus’ aja tanpa embel-embel.....apalagi teenlit yang kebanyakan mudah ketebak jalan ceritanya, makanya diriku berpindah hati ke aplikasi wattpad atau fanfiction.
Demi badan gue jadi sering meriang belakangan ini, demi ‘ibu-ibu pengajian’ yang teriak-teriak kek orang kesurupan tiap kali dateng ke rumah, demi si Pico (Netbook gue yang kecil) yang sekarat, demi kuota yang ikut-ikutan sekarat gara-gara liat ini  liat ini juga..
*Huwwwaaa!!! adek kejang-kejang*
Demi video ‘juru bicara’ bang Pandji yang pas ngomong bahwa ‘Berkaryalah jangan bekerja terus. Menjadi sedikit beda lebih baik daripada menjadi lebih baik. Jangan takut jelek ketika melakukan hal untuk pertama kalinya! Karena udah pasti jelek. Tapi itu sebuah proses”. Kurang lebih seperti itu. Habis liat itu, gue ngetik denga semangat ’45. Bodo amat cerita gue jelek, yang penting gue udah nulis....hahahaha.

Komentar

Postingan Populer