Radio Part III
Ketika
aku meninggalkan gedung, orang-orang sudah tidak ada yang berkerumun lagi hanya
ada garis polisi dan beberapa darah yang tececer. Segera ku alihkan pandanganku
ke jalan, mencari bus yang tersisa. Yups, setelah siaran aku harus ikut rapat
dadakan dengan staf lainnya, yahh mengingat ada orang yang meninggal di
gedungmu tentu saja staff dan yang lain harus siap menghadapi wartawan yang
meliput.
.....tapi
seseorang memengang lenganku. Jujur aku sangat kaget, mungkin efek fakta bahwa
ada yang baru saja meninggal membuatku tak bisa berfikir postive.
Ku
tolehkankan wajahku. Ah, Nina rupanya, pikirku lega. “Kau mau pulang?” tanyanya
sambil tersenyum. “Ya. Mau pulang bersama?” ajakku. “Maaf, aku sungguh
ketakutan gara-gara suara tembakan tadi, jadi ku putuskan menghubungi kakakku
untuk menjemputku. Kau tidak apa-apa?” ucapnya khawatir, tentu saja mana ada
yang tidak khawatir temannya pulang sendiri menaiki bus malam, itu pun jika
masih ada. “It’s okey, aku akan baik-baik saja. Jangan terlalu mencemaskanku”
ujarkku menyakinkanya, namun ia masih memandangku cemas. “Ku sarankan naik taksi
saja, ini sudah larut. Oh iya, Ron tadi menghubungi bahwa ia ingin bertemu
denganmu di cafe dekat stasiun jam 9 tepat. Aku pulang dulu, bye bye” pamitnya
sambil melambaikan tangannya. “Bye” gumanku pelan.
“Sepertinya
aku memang perlu taksi” ucapku tanpa sadar ketika tubuh Nina menghilang di
belokan kiri jalan, mungkin dia sudah di tunggu kakaknya. Aku mengernyitkan
kedua alisku, kakak? Sejak kapan ia punya kakak? Ah pasti pacar barunya.
***
09.13
Kakiku melangkah ke dalam cafe.
Semuanya duduk dengan pasangannya dan keluarganya kecuali....sebuah punggung
pria berstelan jas memandang bangku sebrangnya yang kosong, aku tak bisa
melihat wajahnya, aku juga tidak tau apakah ia yang kucari, jadi mari kita
buktikan!
Aku menghampirinya lalu mulai
bertanya, “Maaf, apa kau – “
Ia mengangguk duluan sebelum ku
lanjutkan pertanyaanku. Mejanya masih kosong tanpa secangkir kopi. Buru-buru
aku memesan, seorang pelayan datang menanyakan apa yang ingin ku pesan. “Kopi
dengan ekstra creamer” aku beralih menatap Ron, bermaksud menanyakan
pesanannya. “Sama” sahutnya. “Kopi dengan ekstra creamer dua”, pelayan tersebut
memandangku sesaat lalu menulis pesananku.
“Senang bertemu denganmu, Ron”
sapaku duluan. Dia memang pemuda biasa seperti pengakuannya, tidak tampan namun
sepertinya ia lupa cerita bahwa dirinya kharismatik. Aku tak bisa menggambarkan
dengan kata-kata bagaimana kharismanya, tidak ada yang spesial dari
tampilannya, semuanya biasa kalau aku boleh jujur.
“Aku juga senang bisa bertemu
denganmu, terima kasih sudah datang, Omi” sapanya balik.
“Kau tau namaku?” seruku kaget. Aku
tak menggunakan nama asliku ketika sebagai penyiar, tapi dia tahu ...bahkan
autor tak mengetikan namaku di Part I dan II. (Masih bingung milih nama,
Woyyy!!! Di pikir gampang!! *nimpuk pakek naskah*)
Ia menaikan alisnya, tak menjawab.
Ia tersenyum lagi. “Sebetulnya aku ingin melanjutkan ceritaku kemarin, maaf
memutus sambungaku kemarin”
“Bukankah ceritamu sudah selesai
kemarin? Gadismu kembali, kau menerimanya, kau mencintainya dia mencintaimu
....dan the end. Aku bersyukur ternyata happy ending.” Mimik mukanya berubah
suram, ini bukan awal yang baik, batinku. “Jadi itu belum selesai?” tanyaku
hati-hati.
Ia menggeleng lemah. “Jadi bagian mana
yang aku lewatkan? Aku punya banyak waktu hari ini” kataku sehangat mungkin.
“Aku menerimanya kembali, dia ingin
memulainya dari awal lagi bersamaku.” ucap Ron langsung memulai ceritanya.
“Ahhh....Kurasa dewi fortuna
berpihak padamu, Ron. Aku turut bahagia” ujarku tersenyum senang walaupun si
pencerita masih tak merubah ekspresinya. Datar. Dan sedikit menarik ujung bibir
kanannya ke atas. Ekspresi apa ini?
“Sepanjang
hari ia menangis, aku memeluknya seperti dahulu. Ia masih sama, aku merasakan
kehangatan yang sama. Sayang kegembiraanku tak berlangsung lama, terselip rasa
kebencian di antara hatiku ketika aku melihat ia tak datang sendiri, ada bayi
mungil dalam gendongannya. Aku merasa ini kurang adil untukku.”
Aku memandangnya setengah iba. Ya,
cukup sulit menerima seseorang yang meninggalkanmu membuatmu menderita lalu dia
tiba-tiba datang dengan seonggok bayi yang bukan anakmu dan ingin kembali
padamu. Artinya kau harus menerima si gadis yang meninggalkanmu dan anak dari
si gadis.
“Apa
Anda baik-baik saja, nona?” tanya pelayan cafe menatapku cemas. “Aku tidak
apa-apa. Terima kasih” ujarku. 2 cangkir kopi sudah tersaji rupanya.
“Aku
tak menginginkan bayi itu, dia bukan anakku. Bayi itu membuat hatiku menjadi
hampa, memandangnya tanpa cinta dan juga benci. Entahlah, aku tak tau perasaan
apa itu...mungkin aku belum bisa menerima kedua sahabatku menikah dan
menghasilkan bayi ini.”
“Kalau
aku jadi kau aku tak akan menerimanya kembali, aku tidak akan mau sakit dua
kali dan kurasa jika seseorang sudah menyakitiku pasti aku membencinya
seberapapun aku mencintainya dulu”
Ia
tertawa. “Kau pasti belum pernah menglaminya. Cinta tak segampang itu pergi.
Biar ku perlihatkan. Ambil kopimu sesendok saja, lalu teteskan pada bajumu”
perintahnya masih sibuk tertawa.
“Apa
kau mengerjaiku?” tanyaku penuh selidik.
“Lakukan
saja, itu tidak akan membuatmu mati hanya tertetes air kopi” timpalnya. “Sebenarnya
gunakan air biasa saja..tapi tidak masalah toh, bajumu juga berwarna coklat”
“Aku
akan mencubitmu jika ada noda kopi di bajuku” ancamku. Ia malah tertawa lebih
keras. “Coba saja, kau akan menyesal dengan kata-katamu tadi” cibirnya. Cih,
memangnya dia siapa?
Akhirnya
kulakukan sesuai perintahnya. Untungnya tak ada bekas kopi disana, beruntung
bajuku coklat dan air kopi sudah meresap dalam sela-sela serat lengan bajuku
rupanya. Tak ada bekas.
“Bagaimana
kau melihat bekasnya?” tanyanya menatapku dengan alis terangkat.
“Tidak,
tidak ada bekasnya”
“Coba
kau raba, bagian yang tertetes tadi!” pintanya. Kuraba baju bagian lengan, agak
sedikit lembab bagian yang kutetes tadi.
“Agak
lembab, tak sekering sekitarnya” jawabku yakin.
“That’s
right, Omi.....Bagitupun saat kau mencintai seseorang, ketika ia pergi dan rasa
kebencian datang. Dia tidak hilang. Dia hanya bersembunyi. Walau tak nampak
tapi ia masih ada disana” jelas Ron. Aku hanya bisa bengong memandangi lengan
bajuku sambil merabanya kembali.
“Aku mencintainya...hanya saja aku
ragu apakah dia mencintaiku atau hanya pelarian semata. Keraguanku semakin
bertambah ketika dering poselnya bergema, suaminya mencarinya. Dari situ aku
tahu ia kabur dari rumah, ia sakit hati karena suaminya jarang bicara dan sibuk
bekerja. Well, kurasa dia lupa jika
sahabatku memang dasarnya pendiam”
“Kau melepaskannya?” tanyaku tak
sabaran.
“Aku tidak sebodoh itu, aku sudah
menunggunya lama dan sekarang dia di hadapanku..tentu saja aku ingin
memilikinya seutuhnya. Sedikit egois memang, tapi begitulah cinta” Ron berbalik
menatap jendala, dimana orang-orang mulai tergesa-gesa melangkahkan kakinya. Gerimis
mulai mengguyur.
“Ku pikir inilah kesempatanku. Untuk
menjawab keraguanku, aku bertanya mana yang ia pilih bayinya atau diriku. Jika
dia memilihku aku akan membahagiakannya, tapi jika ia memilih bayinya maaf
saja” lanjutnya tanpa melepas tatapannya ke luar jendela.
“Ia tak bisa memilih” gumanku tanpa
sadar.
“Ck...kau benar cenayang rupanya.”
desisnya. “Ia mendekap erat bayi itu seakan bayinya akan kurampas dari hidupnya.
Ketakutannya memang menjadi kenyataan. Sore itu aku membawa bayi itu ke ruang kantorku
yang sepi. Tepat saat aku menelpon ke siaranmu, aku mendengarkan lagu yang kau
putar, jadi aku putuskan meceritakan kisahku dulu sebelum melenyapkan bayi itu”
Nafasku tercekat. Rahangku seperti
akan jatuh ke bawah. Jadi suara tembakan itu...Oh astaga, orang macam apa yang
ada di depanku ini?
“Ka-kau m-membunuhnya?” ucapku
terbata-bata.
Ia malah menyeringai lebar. “Di luar
rencanaku, ketika aku bercerita gadis itu datang berniat menyelamatkan bayi
mungilnya. Aku menyuruhnya pergi sambil ku masukan peluru dalam pistol.
Tubuhnya merosot ke lantai ketika ia tau benda apa yang ada di tanganku. Niatku
sudah bulat, di akhir cerita seperti yang kau dengar, aku melakukan seperti apa
yang harus kulakukan”
Klek!!!
Klek klek!. Suara pistol.
Pergi...pergi kataku, bodoh! Gadis itu datang.
Dua
hal itu terus terngiang-ngiang di kepalaku dan itu terjadi di gedung tempatku
bekerja. Sebenarnya dia siapa? Jadi dia pelaku penembakan kemarin? Dan
korbannya adalah seorang bayi?
Ku
minum kopiku buru-buru, pikiranku jadi semrawut, berkali-kali kupegang kapalaku
yang mulai berdenyut-denyut. “Siapa kau sebenarnya?” pekiku tak tahan lagi.
“Kenapa kau ingin membunuhnya?” tanyaku lirih. Aku sungguh tak tega
membayangkan bayi tak berdosa meninggal gara-gara cinta segitiga trapesium
jajargenjang atau apalah itu bentuknya.
“Aku
hanya ingin sedikit membagi ‘kehilangan, kesepian, kebencian’ yang kurasakan
selama ini” Jari tengahnya bergerak mengelilingi pinggir bibir cangkir kopi
yang tak berkurang sedikitpun. “....ah, setelah ini pasti kau akan bertanya
kenapa aku di gedung yang sama denganmu?”
Tepat
sekali, tadinya aku ingin bertanya begitu. “Apa kau sudah tidak waras? Lebih
baik kau segera cari isi kepalamu sebelum aku menggantinya dengan tong sampah. Seberapa
pun kau membencinya, dia hanya seorang bayi tak bersalah dan bisakah kau pilih
tempat yang lebih baik? Gedung itu jadi angker gara-gara kau...Ya Tuhan, kau
tak tau apa yang sedang kau perbuat, Ron!” suaraku mulai terdengar meninggi.
Ia
terkekek pelan. “Aku pemilik gedung itu. Kau akan menyesal mengataiku tidak
waras...tunggu saja suaramu pasti akan hilang setelah ini”
“Kau
atasanku? Tunggu...K-kau ju-juga akan membunuhku?” tanyaku kembali terbata-bata.
Aku ketakutan lagi. Ku hindari kontak mata dengannya, biar ku ulangi aku sangat
amat ketakutan sekarang. Hey, ayolah siapa yang tidak ketakutan duduk
bersebrang dengan seorang pembunuh.
Hening.
Ia
diam.
Aku
masih menunduk. Tanganku sibuk memegangi kepalaku yang ingin meledak
sewaktu-waktu.
Tak
ada jawaban.
Aku
benar-benar gila sekarang. Siapa tau dia bawa senjata tajam lalu tiba-tiba
menikamku. Oh Omi, ini tempat umum mana mungkin dia membunuhmu? Mungkin saja,
kau telah menghinanya, dan ternyata dia atasamu, pantas dia tidak asing, apa
aku akan di pecat? Kenapa otakku tidak bisa diam?
“Aku
tak bisa membunuhmu, Omi” ucapnya lirih. Tak ada tanda kebohongan dari
suaranya.
Pelan-pelan
ku angkat kepalaku setelah mendengar ucapannya. Tiba-tiba lidahku kelu,
tenggorokanku sangat kering, dengan amat sangat berat ku telan ludahku namun
nampaknya ludahku juga kering, jika kalian menganggapku panas dalam...aku akan
sangat bersyukur jika itu memang panas dalam, namun nyatanya semua tubuhku kaku
tak bergerak, pupil mataku membesar, sampai detik ini nafasku masih tertahan di
kerongkongan.
“Tenangkan
dirimu. Bernafaslah!” pintanya mencoba membantu. Mungkin kalian tidak percaya
ini, pemuda di hadapanku memang masih memakai stelan jas yang rapi, namun kini
buang kata rapi....jas-nya terlihat sobek dimana-mana, kemeja putih bagian
dalamnya penuh noda darah, aku tak mampu mendeskripsikan bagaiamana rupa
wajahnya sekarag, yang pasti dengan banyak luka mengerikan di wajah dan darah
menetes dari lubang di samping kepalanya. Mengerikan.
“Maaf,
kau melihat rupaku rupanya. Kau pasti sangat ketakutan”
Aku
mulai bernafas lagi dan tiba-tiba aku mulai menangis sesenggukan sambil mencoba
menutupi wajahku agar tak melihat wajahnya yang seram. “Bi-bisa.hiks..kah..hiks..hiks....kau
tak menampakan wajahmu yang ini...hiks...hiks” suara tangisku makin keras. Aku
ketakutan dan hatiku sangat sakit dalam waktu bersamaan.
“Kau
sendiri yang mengubahku. Jika kau terus ketakutan kau akan melihatku seperti
ini”
Ku
tarik nafasku pelan-pelan, ku sugestikan pada diriku sendiri bahwa dia orang
baik, dia tidak akan membunuhku, dia hanya
minta tolong, dia juga manusia....dulunya. Ku panjatkan beberapa doa
agar di beri keberanian, sampai akhirnya ku singkirkan tangaku dari wajahku.
Benar,
beberapa lukanya menghilang, jasnya mulai rapi lagi, tapi kemejanya masih ada bercak darah, tak apa yang penting
wajahnya kembali seperti semula. “Aku tak bisa membunuhmu, Omi” ulangnya. “Aku
sudah tiada”
“Jadi
kenapa – “ suaraku belum kembali sepenuhnya ternyata, air mataku masih juga
mengalir. Aku tak tau mengapa hatiku ikut sakit melihatnya begini.
“Harusnya
kau sudah tau kalau jasad yang ditemukan adalah pimpinanmu, kau pasti mengantuk
saat rapat kemarin.” Ya dia benar, aku tertidur di tengah-tengah rapat, tentu
saja tanpa ada yang tau. “Aku ingin menembak bayi itu. Ternyata aku tidak
sanggup, ia menyentuh wajahku dengan tangan mungilnya....aku berubah pikiran.
Aku sudah terlalu benci dengan diriku sendiri, aku juga sudah muak jika terus
dijadikan pelarian, aku juga tak mau berdosa pada sahabatku sendiri, aku bosan
menangung sakit sendirian....jadi kuputuskan menembakan pistol ke kepalaku
sendiri hingga tubuhku terjun bebas dari balkon ruangan kerjaku. Setidaknya
setelah ini ia belajar arti kehilangan.....”
“Kau
menyesal?” tanyaku lirih.
“Tidak,
awalnya. Tapi setelah tahu dia meraung-raung menangis di depan fotoku, aku
sungguh tidak tega. Bukankah dia tidak mencintaiku, kenapa dia begitu sedih?
Padahal aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran, tapi kenapa dia terus
menangis hingga pingsan, bukankah diriku tak begitu berarti untuknya? Bukankah
bayinya masih bernafas? Kenapa ia begitu sedih?” tanyanya memandangku bingung.
“Mungkin
dia benar-benar menyayangimu” balasku.
Ia
memandangku dengan tatapan penuh nanar. Dia berpikir sebenar. Lalu mulai
berucap lagi. “Mau kah kau memabantuku?”
“Tentu
saja” aku tersenyum mengiyakan. “Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu dulu.”
Ia
mengangguk mengiyakan .“Bagaimana kau menghubungi Nina kemarin?” tanyaku
penasaran.
“Ohh
jadi Nina namanya, yang kau lihat Nina kemarin adalah aku” balasnya enteng.
Good, harusnya aku kemarin aku lari tunggang langgang....oh bodohnya aku tak
curiga temanmu yang tak punya kakak tiba-tiba berbicara tentang kakaknya yang
ingin menjemputnya. “Lain kali selidiki dulu identitasnya” ejekku, walaupun dia
atasanku dia sudah tak bisa memecatku bukan...boleh aku tertawa?
“Apa
yang dapat ku bantu?”
“Tolong
sampaikan maafku padanya, bujuk dia kembali ke suaminya. Katakan padanya aku
tidak apa-apa, dia tidak bersalah.” Ron tertunduk, aku bisa melihat sudut
matanya sudah basah. “Itu saja, maaf merepotkanmu dan tak bisa membalas apa
pun, harta dan kedudukanku sudah tak berarti sekarang. Jika tau begini, aku
akan menulis surat warisan dulu kepadamu. Maaf...maaf...” ia membungkuk
beberapa kali seraya mengusap matanya yang sudah basah.
Aku
ingin menyentuhnya untuk memberinya sedikit kekuatan, tapi urung karena seorang
pelayan datang lagi kepadaku, sekali lagi ia bertanya “Apa kau baik-baik saja,
Nona?” tapi kali ini dengan tambahan “Maaf, tapi aku melihatmu bicara sendirian
sejak tadi”. Aku membalasnya dengan senyumku, “Aku sedang belajar
akting....besok aku ikut pentas. Maaf aku tidak memberitahumu dahalu”. Lalu
pelayan itu mengangguk maklum dan meminta maaf mengira diriku ‘gila’ secara
tidak langsung.
***
“Yaa...hujan
lagi” keluh Nina mondar-mandir di depan jendela. “Hey, bangunlah...!!! Apa kau
pikir dirimu putri tidur?” pekiknya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
“Aku
tidak tidur, aku hanya lelah...Kau tau kan aku baru saja pulang kuliah dan siaranku
masih sejam lagi, kawan” kuletakan kepalaku di lengan sofa lagi. Ia tetap
mengusik kenyamananku. “Cuci wajahmu dan kita cari kopi di lantai bawah. Ayolah
berhentilah jadi pemalas, ikutlah denganku”
“Ayayy
kapten!!” ucapku memberinya hormat, aku langsung bangkit dari sofa dan berjalan
mendahuluinya.
“Tsk! Sebenarnya siapa yang
mengajaknya? Kenapa malah dia yang jalan duluan?” gumannya mengikutiku menuju
lift.
Kami memesan kopi agar tetap terjaga
sore ini, kau tahu hujan dan udara dingin sangat menyiksa kami untuk sekedar
membuka mata. Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang diiringi pria paruh baya
dengan bayi di gendongannya. “Maaf kami tidak jadi memesan” langsung ku tarik
tangan Nina agar mengikuti....lebih tepatnya ku seret karena ia mencoba
melawan. “Kau sudah gila?” peikiknya diiringi ocehannya.
Suara sepatuku yang bergesekan
dengan lantai membuat dentuman yang cukup keras, Nina hanya bisa menurut dan melanjutkan
mengoceh tanpa henti, mulutnya tidak pegal apa?
Setelah menaiki lift kami tiba di
lantai 8. Beberapa orang sibuk tergesa-gesa berjalan dengan beberapa map di
tangannya. Aku lupa gedungku bukan hanya radio tapi juga bergerak di media
cetak. “Tunggu!!!” teriakku seraya mencoba mengatur nafas yang ngos-ngosan. Nina
mengeret baju lengan sambil bersumpah serapah lalu berencana pergi meninggalkan
dengan tingkah konyolku ini, ia tidak mau pecat gara-gara temannya yang tidak
waras. Sebelum itu, aku sudah merengek memegangi lengannya seperti koala, Nina
masih bersi keras pergi hingga aku ikut terseret menempel pada lenganya.
Orang
yang ku panggil ternyata sudah memandangi tingkah ‘ajaib’ kami berdua.
Perhatianku teralih, Nina segera kabur. Cih, teman macam apa itu?
“Apa
kau memanggilku tadi?” tanyanya.
Naas rasa gugupku sudah menjalar, ku
petik daun di pot dekat lift lalu
merobek-robeknya tak beraturan sambil komat-kamit memanjatkan doa. Kalau bukan
karena mimpi bodoh mengerikan itu aku tidak akan mempertarukan pekerjaanku ini. Sepertinya setelah ini aku
harus melingkari iklan baris di koran, kolom lowongan tentunya.
“Maaf aku lancang, ada yang ingin ku
sampaikan. Bisahkan kita bicara berdua saja?” ku arahkan pandanganku kepada
pria paruh baya dengan bayinya. Aku yakin dia sekretarisnya. Lalu pria paruh
baya bersama bayinya tadi pergi ke dalam ruangan setelah di beri perintah.
“Apa
kau tersesat mencari ayahmu?”ucapnya memandangiku dari ujung rambut sampai
ujung kaki. “Ap-apa?” seruku tak percaya. Aku memandang penampilanku. Sial, aku
dikira anak hilang. Oh salahkan saja badanku yang kecil dengan tinggi setinggi
anak SMA.
Ia
mengangkat kedua alisnya, menunggu responku selanjutnya. “Begini aku bukan anak
hilang. Aku salah satu staffmu, setelah ini tolong jangan pecat aku, please....setidaknya
biar ku selesaikan kuliahku. Ini terdengar gila, aku bermimpi beberapa waktu
memimpikanmu bersama bayi itu...ku pikir aku hanya mimpi aneh akibat sakit
karena waktu aku bangun dalam keadaan demam hebat. Tapi setelah saya melihat
anda membawa bayi itu hari ini, saya takut mimpi saya benar menjadi kenyataan”
jelasku. Raut wajahnya berubah serius sampai kedua alisnya bertaut. “Aku
melihat Anda...Oh Astaga bagaimana mengatakanya”
“Sebenarnya
apa yang ingin kau sampaikan padaku, nak?” ucapnya mulai tak sabaran. Tunggu?
Dia memanggilku ‘nak’ ? Wtf, dasar pak tua!!
“Intinya,
aku mohon jangan bunuh bayi itu. Anda itu tidak mungkin tega, tolong relakan
saja bayi itu dan jangan bunuh diri...Huweeee!!! JANGAN MATI, ANDA JADI MENYERAMKAN!!!
JANGAN TEMBAK KEPALA ANDA!! AKU MOHONNN!!” pintaku setengah memohon.
Entah apa yang ku pikirkan, yang
jelas mengingat dirinya meninggal dengan sia-sia sangat membuatku sedih dan
ketakutan, dia berhak hidup dengan baik. Aku menangis keras sanggil berjongkok
menyembunyikan wajahku di lututku. Tangisku semakin keras. Aku mulai mendengar
langkah mendekatiku, apa ia akan membunuhku dulu? MAMAHHH!!! Maaf, anakmu yang
bodoh ini!!
“Berapa umurmu, nak?” aku bisa
mendengar suaranya tepat di depanku. Ku dongakkan kepaku, ia ternya ikut
berjongkok di depanku. Sedikit isakan aku menjawab “21”
Ia sedikit kaget. “....peramal itu
tidak main-main rupanya” gumannya pelan, tapi aku bisa mendengarnya dengan
jelas.
“Apa?” tanyaku polos.
“Kau aneh, nak! Tapi ku akui aku
punya rencana dengan bayi itu.”
“Begini aku bukan pencari anak
hilang. Aku atasanmu disini, setelah ini aku tidak akan memecatmu....setidaknya
biar kau selesaikan kuliahmu. Ini terdengar gila – “
Tunggu. Aku berpikir sebentar.
“Yakkk!!! Itu ucapanku! Kau menconteknya!!! Kau mengejekku?” teriakku kesal,
kesedihanku sudah hilang entah kemana, harusnya ku biarkan saja dia bunuh diri.
Jika mimpiku benar.
Ia terkekek sendiri lalu mulai
bicara serius. “Mungkin kau tidak percaya ini, ketika aku masih duduk di SMA
aku iseng menemui seorang permal di sebuah bazar. Dia mengatakan hidupku di
penuhi kesedihan, penghiaatan, kesepian dan aku akan kehilangan semua orang
yang aku sayangi. Aku menjadi penuh dendam dan berakhir dengan bunuh diri. Tapi
jika aku beruntung jodohku akan memperingatkanku. Ramalan yang bodoh bukan?”
Aku cuma bisa menatapnya melongo
tanpa berkedip. Pria ini lebih gila rupanya. “Tapi nyatanya aku mempercayainya
sekarang. Biarku aku perkenalkan diriku secara resmi. Aku Ron, 28 tahun...Sial,
kenapa aku menyebutkan umurku, aku jadi kelihatan pedofil sekarang” ia merutuku
omonganya sendiri. “Jadi apa kau mau menjadi jodoh paman tua ini?”
Aku masih diam. Shock berat. Ini
lebih menyeramkan daripada sosok arwahnya.
Ia menghembuskan nafas pelan.
“Baiklah aku memang sial, terjerat cinta pertama dengan sahabatku, di jadikan
pelarian, sekarang di tolak seorang anak kecil. Lebih baik ku bunuh bayi itu
saja, siapa tau gadisku kembali kepadaku...atau aku bunuh diri saja, aku sudah
muak hidup seperti ini” racaunya.
“Apa kau punya hair dryer?” tanyaku
tiba-tiba.
“Tidak” jawabnya asal. “Tapi aku
bisa meminjam seseorang jika kau mau” sambungnya.
“Dalam mimpiku kau pernah
bilang...cintamu pada gadis itu ibarat sebuah tetesan air dalam bajumu, walau
tak nampak tapi ia masih ada disana. Jadi aku butuh hair dryer untuk untuk
mengeringkannya, biar air itu menghilang. Walaupun ia tak nampak, ia lembab,
kau tak mau bajumu lembab bukan?” kataku penuh senyuman.
“Hey, nak! Sampai kapan kau mau
berjongkok? Aku encok” godanya.
Aku
hanya bisa memutar bola mataku malas. Aku baru saja mengatakan hal yang
romantis dan serius. Katakan dia bukan jodohku kan? Dia tua dan tidak romantis.
Takdir yang kejam.
The End
Januari
kampreett bikin kesehatan naik turun kek ular tangga. Ambruk...bangkit...ambruk
lagi...bangkit lagi.....aku tenggelam dalam lautan luka dalam..aku tersesat dan
tak tau arah jalan pulang....aku tanpamu ...butiran debu...butiran debuuuuuuu
*Malah nyanyi*
Alhamdulillah
!!!! Akhirnya selesai juga..wkwkwkwk. Walaupun belum sehat 100%, biasalah habis
main pasti ambruk, pengen gue tuker nih badan... orang-orang jadi merasa
bersalah karena ngajak main ujung-ujungnya bikin diriku sakit....Oh ya salahkan
kamar temen gue, udah pening nih kepala, mau numpang tidur..eh ada bayangan
sliwar-sliwer.....akhirnya gue pamitan pulang dengan wajah pucet. Setidaknya
makasih sobat-sobat adek yang ngasih donat, pisang, mie ramen, gorengan,
batagor, pop ice, sosnag 9 tusuk yang pedesnya bikin mencret (katanya biar anak
gue (?) kagak cadel kaya bapak ibunya, anak siapa coba?)
Maaf
jika ceritanya jelek. Awalnya pengen gue bikin brother complex tapi takut ada
adegan ‘mature’ akhirnya ganti dan mau dibikin sad ending niatnya....butuh
perjuangan nulis pas adegan ketauan kalau ternyata Ron sudah bukan manusia
lagi, gue ampek lari teriak-teriak nyari ibu gue...saking ketakutkan (adek
takut hantu,sob) ngebayanginnya..kalau mau nulis mau enggak mau ngebayangin
kan. Akhirnya fase tersulit terlewati, dan gue bikin happy ending ajalah.
Kasian atuh.
Bye..bye...adek
mau nyelesain baca novel dulu!!!

Komentar
Posting Komentar