hay, june



Hay, june

Rupannya bulan ini daun-daun mulai menguning. Bergurguran memenuhi jalan setapak. Hujan mulai tak datang lagi. Namun, rupanya masih kulihat awan-awan hitam bergerombol di langit. Tapi tak jua meneteskan air. Ini benar-benar kemarau, pikirku. Kuputuskan hari ini menulis di blogku yang usang ini. Rasa penat yang menyergap mendorongku untuk berkeluh kesah disini. Lucu memang, seperti anak sekolah dasar yang menulis buku diary-nya. Menceritakan temannya yang nakal mengambil permen manisnya. Tenang saja, aku tidak akan bercerita tentang permenku yang diambil.

Aku akan menceritakan diriku sendiri. Well, mungkin ini terdengar narsis tapi inilah aku. Sebagai seorang introvert. Pribadi yang tertutup. Sebenarnya bukannya aku tertutup tapi terkadang menceritakan apa yang tidak dipahami orang lain bukanlah hal yang mudah. Dan aku benci pandangan orang-orang dengan dahi mengeryit seolah berkata “Kau waras, nak?” ditambah kemampuan berkomunikasiku yang kurang. Oh iya jangan lupakan aku juga cadel, meski tak begitu ketara. Jadi aku memilih diam dan mendengarkan. Sesekali berkata iya dan tidak, kurasa itu sudah cukup.



Walaupun aku terlihat cuek dan kaku. Tapi aku senang memperhatikan orang lain. Memperhatikan orang bercerita tentang kekasihnya atau hal-hal lucu lainnya. Melihat orang lain tersenyum itu sangat menyenangkan seperti menghirup bau tanah bercampur air hujan. Tenang dan memabukkan. Aku belajar memahami emosi seseorang. Apakah dia marah, kesal, sedih, senang. Jika kalian berbicara dengan seseorang pandang matanya. Kata orang mata adalah jendela dunia. Kalian akan menemukan perasaan mereka sebenarnya. Terkadang orang-orang yang senang melempar candaan memiliki mata yang kesepian. Aku benci mata yang seperi itu. 

Selain mata kesepian, aku benci keramaian. Bukannya aku tidak suka berkawan. Kadang di tengah-tengah keramian membuatku cemas. Aku tidak suka di pandang banyak orang. Terlalu banyak orang yang aku temui. Terlalu banyak informasi yang masuk ke memoriku. Membuatku lelah. Karena ditengah keramaian membuatku harus menjadi apa yang mereka inginkan. Menjadi ramah. Menjadi partener ngobrol yang baik. Mengumbar senyum kesetiap matamu memandang. Bahkan ke kucing garong yang kebetulan lewat menggondol ikan. Aku merasa menjadi orang lain. Apalagi mendengarkan bualan kalian tentang hal hebat yang kalian lakukan. Dan yang lebih menjengkelkan lagi aku harus mendengarkan bualan kalian dengan pandangan antusias. Seriously, jika aku di situ satu jam lagi, aku tidak jamin aku tidak muntah di tempat. Menurutku kebaikan kita sebaiknya jangan diumbar-umbar seperti aurat. Toh, sudah ada yang mencatat kan (maliaikat-red). Orang lain tidak perlu tahu. Kita hidup bukan untuk mendapat sanjungan orang lain, kawan.

Hidup sebagai anak introvert, aku akui bukanlah hal yang mudah. Merasa berbeda sudah pasti. Dipandang sebelah mata sudah pasti. Karena aku jarang bersuara dan lebih suka menarik diri. Menghabiskan lebih banyak waktu sendiri, melamum misalnya. Karena terlalu banyak waktu yang aku habiskan sendiri. Dampaknya mempunyai lingkaran pertemanan yang sedikit, paling jauh dua bangku dari tempat dudukku. Sialnya lagi mempunyai teman yang kebanyakan hiperaktif, sumpah itu bikin kepala pusing. Kadang suka jengah melihat mereka loncat-loncat, kesana kemari, terlalu bersemangat melakukan suatu kegiatan. Dan seperti biasa, aku akan melarikan diri dari mereka. Ketika mereka mencariku, jawab saja “Aku sedang di Kutub Utara, memancing bersama pinguin dan mengobrol dengan singa laut”

Begitu juga soal asmara. Ahh..aku benci bagian ini. Aku hanya orang berpendidikan, yang tidak berpengetahuan soal asmara. Aku bakan tidak diperbolehkan mencintai orang yang aku cintai (Kyaaaa!!! Jongin Oppa...Sehun oppa..). Nasib kadang sejahat itu. Tidak merasakan cinta selama lebih dari dua puluh tahun adalah suatu kemunduran tugas perkembangan. Tidak pernah merasakan debaran seperti sengatan listik. Merasakan perutmu digelitiki ribuan kupu-kupu. Entahlah, kadang aku berpikir orientasiku sendiri. Apa aku aseksual? Atau mungkin kanan kiri oke alias biseksual? Sepertinya tidak, buktinya aku lebih suka EXO daripada Girls Generation dengan kaki jenjang layaknya sapu lidi.  

Mungkin di dunia warewolf di cerita yang aku baca. Seperti Alpa yang sudah masuk masa dewasa namun tak kunjung menemukan mate-nya. Kemungkinan memang tak ada beta maupun omega yang menjadi jodohnya sudah keburu mati atau mate-nya adalah orang kesayangan dewa. Yups, ini adalah fiksi jadi jangan dipikirkan. Ini hanya otakku saja yang hobi menghayal tidak jelas.
Salah satu yang di khawatirkan oleh anak introvert adalah masa depan mereka. Kurangnya relasi. Kurangnya ketrampilan berkomunikasi. Keengganan berosisialisasi. Kadang aku berpikir apakah aku bisa masuki dunia kerja dengan penyakit introvert ini. Mungkin aku membutuhkan pekerjaan tanpa bertemu orang lain. Pembuat komik. Melukis. Online shop. Atau pembuat cerita novel dengan kisahnya yang menakjubkan padahal ia hanya duduk di depan layar komputer sambil sesekali memandang anak-anak TK berlarian pulang sekolah dari jendelanya. Ku pikir itu terlalu merana dan sedikit menyedihkan....

Lalu lebih bodohnya lagi aku bersekolah di bidang konseling. Mengajak orang lain menyelesaikan masalah mereka. Berdiskusi. Memberikan kenyamanan lewat kata-kata. Ternyata aku memang benar-benar tak ada harapan. Tapi setidaknya praktikum konselingku cukup bagus. Dan aku pernah punya klien di dunia maya. Walaupun aku juga tak begitu paham masalahnya. Bagaimana aku bisa paham. Ia menanyakan “apakah saya harus berhenti memakai KB?”. Sepertinya ia berkonseling pada orang yang salah. Apa KB itu sejenis jepit rambut yang bisa dengan mudah di copot dan dipasang? Bahkan dia bercerita tentang suaminya yang berselingkuh. Oh God, aku bahkan tidak tahu tentang selingkuh-menyelingkuhi.





Oh iya.... tanggal 25 nanti umurku genap 21 tahun. Menyentuh kepala dua. Mungkin bertambahnya usia tahun ini akan sama dengan tahun kemarin. Merayakan dengan sahabat-sahabat dekatku. Dengan sebuah kado yang sederhana namun pernuh harapan dan keikhlasan. Well, sebenarnya aku tak begitu menyukai perayaan. Apalagi sebuah surprise  dengan kue bertabur lilin. Maaf saja aku bukan orang yang mudah terkejut lalu menangis karena terharu.  Ada yang mau mengingat saja aku sudah bersyukur.
Ya doakan saja di umurku yang bertambah ini semoga berat badanku tidak terus merosot. Aku malas membeli baju dengan ukuran yang lebih kecil. Untuk ayahanda tercinta yang suka ngasih aku uang jajan, cepet sembuh. Adek suka suka nangis lho ngeliatnya...cengeng ya.  Adek janji bakal wisuda lebih cepet. Tahun depan kalau perlu. Biar bisa menghidupi Vivi pakai uang sendiri. Yaksok.

Maaf untuk kawan-kawan motivasi, aku merasa sedikit bersalah mengesampingkan kalian bahkan menghilang entah kemana. Makasih adek-adek yang udah selalu care, selalu menanyakan apakah butuh bantuan padahal kelakuanku begini. Di contoh juga ngga bisa, apalagi di teladani. 



Salam peluk dan cium dariku.

Komentar

Postingan Populer