RADIO

Rupanya hari ini langit sedang berdamai dengan diriku, dia mengejekku dengan awan hitam yang turun bersama dengan bulir-bulir air hujan yang tak segan-segan menggenangi beberapa ruas trotoar.
Orang-orang berlarian menuju halte terdekat, begitu juga denganku. Oh Tuhan, bukannya aku tak bersyukur akan nikmat-Mu, tapi terkadang beberapa nikmat yang kau berikan datang di waktu yang tidak tepat, hujan kali ini misalnya. Jika saya aku masih bermur belasan tahun, mungkin aku bisa menari di bawah guyuran hujan. Tapi lihat lah aku ! aku sudah menjadi sorang dewasa sekarang dan itu artinya diriku sudah cukup tua untuk hanya sekedar bermain di atas rumput yang basah karena hujan.

15.45.
Sial! Gumanku pelan. Kuputuskan untuk menerjang hujan yang mengguyur semakin deras, tidak ada waktu lagi, aku tak mau gajiku di potong hanya karena hujan. Jika di ijinkan mengumpat, akan akan mengumpat sekarang juga. Namun yang terdengar sekarang bukanlah umpatanku melainkan suara perempuan setengah baya yang berteriak-teriak khawatir, “Hey,nak! Kenapa kau hujan-hujan? Apa kau sudah tidak waras?” pekiknya dari kejauhan. Oke, sepertinya dia setengah khawatir dan setengah memakiku. 

Sesampainya di studio siaran, orang-orang membuang nafasnya bersamaan. “Kau telat 7 menit, kawan!” ucap Nina, salah satu partenerku disini. “Cepat ganti bajumu, kita on air 8 menit lagi,” aku hanya menjawabnya dengan ajungan jempol.

Tiga

Dua

Satu

“SORE!! Kembali lagi  di 25,8 FM. .............. “ Kuawali siaranku dengan ocehan seperti  biasa tentunya. Meski terdengar gila, mengoceh sendirian di balik meja siaran tanpa ada yang di ajak berbicara, tapi ini pekerjaanku. Walaupun tidak ada yang merespon ucapanku secara langsung, tapi aku yakin ada puluhan orang yang mendengarkanku. Lalu, sebuah lagu melantun indah mengawali sore yang dingin ini.....

Same bad
But feels just a little bit bigger now
Our song on the radio
But it dont’s sound the same
.....
When I Was Your Man - Bruno Mars-


“Lagu yang indah... It all  just sound like uh, uh, uh...seperti sebuah lantunan rasa perih yang tertahan”

“Aku setuju denganmu, Ron. Apa yang bisa kau ceritakan di sore yang mendung ini? Apa sebuah cerita sedih? Kau terdengar ingin bernyanyi Uh, uh, uh lagi,” candaku kepada si penelpon.

“Entahlah, ketika aku mendengar lagu ini aku mengingat seseorang, lalu aku menelpon kesini..apa aku terdengar terlalu jujur?” tanyanya.

Aku tersenyum simpul. “Ya, tapi itu tidak masalah. Silahkan ceritakan sebuah kisah yang indah untuk kami”

“Ketika aku mendengar lagu ini aku teringat seorang gadis.....” Ia diam tak melanjutkan, yang terdengar hanya suara derap kaki semakin lama semakin dekat begitu perkiraanku. Klek!!! Klek klek! Bunyi lain datang. Aku pernah mendengar suara ini, aku yakin ini gesekan dua benda...apa dia membuka tuas pintu? Bukan, kalau tuas pintu harusnya satu kali....

“Apa kau masih disana?” tanyaku ragu-ragu. Begaimana pun siaraanku harus tetap berlangsung. 

“Ron?”

“Pergi...pergi kataku, bodoh!” gumannya sangat lirih. Aku harus kemana? Bahkan aku tak melihatnya, bagaimana caranya aku pergi. Hey, lalu untuk apa aku pergi?

“Ron, kau bisa mendengarku?”’ staf di luar mulai panik karena penelponnya ada urusan lain yang tak seharusnya di dengar oleh publik. Ku acungkan tanganku memberi isyarat untuk menunggu sebentar, beberapa staf mulai protes tapi mereka menurut. Terpaksa.

“Ohh iya, maaf...sampai dimana aku tadi?” tanyanya balik.

“Seorang gadis” jawabku mengingatkan.

“Mmmm...ya seorang gadis. Ia tak begitu cantik, tak begitu pintar, dia lebih seperti rumput dari pada sebuah bunga”

Kukerutkan keningku. “Rumput? Apa kau tak salah menyebut?”

“Tidak. Aku lebih senang mengibaratkannya sebuah rumput. Rumput yang selalu tumbuh sesering apa pun kau memotongnya.”

“Hey, bung! Aku seorang gadis, asal kau tahu seorang gadis lebih suka diibaratkan sebagai sebuah bunga. Ia cantik dan menawan, belum lagi baunya yang harum...”

Ia tertawa sebentar. “Ah kau benar, bunga lebih cantik, menawan, dan harum....tapi ia layu begitu cepat atau bahkan ia hancur di saat ia belum mekar sempurna karena terlalu banyak yang ingin menyentuhnya”

“Ku akui kau merubah cara pandangku. Setelah ini aku akan meminta seseorang untuk membawakan aku rumput saja dari pada bunga” ucapku setengah bergurau.

“Well, itu terdengar menggelikan. Mintalah bunga saja, saranku....aku tak bisa membayangkan seorang kurir membawa rumput yang di ikat dengan pita merah jambu” timpalnya.

“Kau cukup lucu, gadis itu pasti beruntung mengenalmu. Oh iya kau bilang ia tak cantik dan tak pintar, bagaimana denganmu? ....Hmmm biar ku tebak kau pasti pangeran tampan berkuda putih?”

“Kedengarannya setelah ini aku akan di kutuk jadi pangeran kodok. Aku hanya pemuda biasa, tidak lebih”

“Kau terlalu merendah.  Dulu aku punya seorang adik, dia sering ku peringatkan jangan menangis nanti wajahnya jadi jelek, tapi apa kau tau apa katanya? ‘Jangan khawatir, aku akan selalu tampan’ sambil menangis memelukku. Ya dia cengeng.”

“Adikmu pasti memang benar-benar tampan.”

“Yeahh...sedikit. Aku jadi merindukannya. Ups, maaf....lanjutkan ceritamu, Ron!”

“Tak apa. Sebenarnya aku bingung mau menceritakan darimana” keluhnya. “Tapi biarku coba...”                                                                                                                                                                                                            
 Bersambung..... (Syarat dan ketentuan berlaku **)







** kalau ada waktu dan ide

Komentar

Postingan Populer